Kajian Rumah Diskusi II: KONTROVERSI OJEK ONLINE : “INOVASI TEKNOLOGI DI ERA DIGITALISASI, MENUMBUHKAN ATAU MELESUKAN EKONOMI?”

 

Transportasi telah menjadi kebutuhan yang pokok bagi setiap manusia untuk memenuhi berbagai kebutuhan. Transportasi bisa dianalogikan pula sebagai pembuluh darah yang sudah menyebar setiap sendi-sendi kehidupan manusia. Beberapa tahun lalu, transportasi bukanlah prioritas, namun sekarang sudah menjadi prioritas. Tak heran jika seiringnya perkembangan zaman transportasi pun meningkat dengan adanya bantuan digitalisasi. Jika sebelumnya hanya mengenal angkot sebagai satu-satunya transportasi rakyat yang dekat dengan konsumen, maka baru-baru ini ada istilah baru yaitu angkutan online yang juga siap untuk mengantarkan konsumen ke tempat tujuan.

Perkembangan zaman bukan suatu hal yang dapat di hindari. Digitalisasi tidak bisa menjadi alasan mengapa semua perubahan ada di dunia ini. Sebaga manusia fana, inovasi-inovasi di berbagai bidang amat sangat dibutuhkan untuk menyempurnakan apa yang kita inginkan di dunia ini. Tidak ingin munafik, kita sangat terbantu dengan adanya teknologi. Namun, disisi lain, ada juga beberapa pihak yang akan merasa dirugikan akibat perkembangan teknologi ini. Tidak berekspektasi terlalu jauh, di Bogor, tempat kampus rakyat ini berdiri, polemik antara angkot dan ojek online telah menyita perhatian berbagai pihak, baik itu masyarakat umum, praktisi, akademisi hingga aparat penegak hukum. Bentrok antara sopir angkot dan driver ojek online beberapa waktu lalu telah menjadi pembicaraan tersendiri. Dari sini dapat dilihat, betapa vitalnya peran angkot dan ojek online bagi semua orang.

Berdasarkan penjelasan Kepala DLLAJ Kota Bogor Ibu Dra. Rakhmawati menuturkan bahwa adanya kontroversi antara angkutan konvensional dengan angkutan online menjadi suatu hal yang perlu dipikirkan bersama. Padahal hakikatnya, angkutan konvesional sudah jelas mendapatkan legalitas dari pemerintah. Sedangkan angkutan online jauh dari sentuhan hukum legal, bahkan belum ada peraturan yang mengatur keberadaannya. Memang bukan suatu hal yang dapat dipungkiri lagi bahwa banyak konsumen khususnya kalangan mahasiswa yang lebih memilih angkutan online sebagai sarana transportasi. Pertimbangan berupa kenyamanan, efesiensi waktu, harga, dan sebagainya menjadi daya tarik tersendiri dari angkutan online. Pangsa konsumen yang menjanjikan ini membuat jumlah angkutan online semakin banyak.

Ada beberapa hal yang patut menjadi sorotan ketika berbicara tentang angkutan online dan angkot. Keduanya merupakan kendaraan pengangkut masa yang memiliki segmentasi yang sama. Namun kendati demikian, keduanya memiliki perbedaan yang sangat mencolok. Perbedaan itu dapat dilihat dari segi legalitas, fasilitas dan aksesibilitas. Angkot adalah angkutan masa yang diatur jelas dalam undang-undang. Pemilik angkot memiliki sejumlah kewajiban yang harus dipenuhi agar angkot mereka dapat beroperasi. Dengan memenuhi kewajiban-kewajiban tersebut, angkot memiliki legalitas yang jelas dari segi operasinya. Mereka diwajibkan untuk mengambil penumpang dari trayek-trayek yang telah ditentukan. Mereka tidak bisa seenaknya masuk ke trayek angkot lain karena hal tersebut melanggar peraturan. Berbeda dengan ojek online, mereka tidak memiliki kewajiban untuk melapor operasional mereka. hal tersebut dikarenakan tidak ada aturan yang mengharuskan mereka untuk melapor kepada pemerintah. Hal ini yang menyebabkan mereka tidak memiliki trayek khusus yang bisa membatasi operasional mereka. driver ojek online bisa mengakses semua rute perjalanan tanpa ada penghalang. Hal ini tentu mengakibatkan ketimpangan yang besar karena legalitas sangat menentukan aksesibilitas.

Permasalahan yang selanjutnya adalah terkait fasilitas. Semua pengguna jalan pasti pernah melihat angkot, baik angkot kota yang berwarna hijau maupun angkot kabupaten yang berwarna biru. Hampir semua jalan-jalan yang ada di Bogor Raya ini, tidak ada yang luput dari trayek angkot. Bahkan gang-gang kecil yang idealnya hanya bisa dilewati oleh kendaraan roda empat berukuran kecil untuk satu arah, tidak luput dari trayek angkot. Berbicara tentang fasilitas, jika boleh jujur, angkot-angkot yang ada di Bogor Raya tidak sedikit yang bisa digolongkan dalam kategori angkot tidak layak jalan. Hal ini bisa dilihat dari kerangka mobil yang kurang terawat, kecepatan operasi yang pelan, dan beberapa hal kecil lain yang tidak berfungsi seperti speedometer, lampu, dan wiper. Standarisasi yang ada belum mampu menjadi solusi untuk membuat angkot-angkot yang ada di Bogor Raya menjadi lebih baik. Monitoring yang kurang dari pemerintah terkait menjadikan jumlah angkot yang sesuai dengan standar amat sangat sedikit. Kenyamanan dan keselamatan penumpang sangat dipertaruhkan disini.

Ketika konsumen memilih angkot sebagai angkutan mereka, ada sejumlah biaya ekonomi yang harus mereka bayar. Keadaan lalu lintas Bogor yang padat menimbulkan ketidaknyamanan tersendiri bagi konsumen. Cuaca yang panas ditambah polusi yang dikeluarkan oleh kendaraan lain menjadi biaya sosial ekonomi tersendiri yang harus ditanggung oleh konsumen angkot. Hal inilah yang menyebabkan mereka banyak yang beralih ke angkutan online; karena faktor kenyamanan. Jika berada di kondisi yang sama, dengan fasilitas kendaraan yang berbeda, tentu konsumen akan memilih angkutan online sebagai mitra perjalanannya. Mereka mendapatkan kenyamanan, keamanan, ketepatan dan tentu kemurahan harga.

Perbedaan-perbedaan yang mengarah pada keunggulan angkutan online hampir di semua bidang, mau tak mau membuat pemerintah harus bertindak cepat. Harus ada peraturan yang bisa memayungi keduanya agar tidak terjadi keributan di antara kedua belah pihak. Pemerintah Kota Bogor telah mengambil langkah guna menyikapi permasalahan ini. Berdasarkan hasil pertemuan antara Dirjen Perhubungan Darat, Humas Polri, dan Dirjen Informatika dari Kemenkominfo telah ditetapkan beberapa keputusan terkait tindakan apa yang harusnya dilakukan. Kesepakatan tersebut diantaranya adalah larangan bagi ojek-ojek umum agar tidak parkir di tempat umum, seperti halte bus, trotoar, dan fasilitas umum lain. Kedepannya akan dilakukan pembatasan jumlah agar komposisi angkutan online dan angkutan manual tidak timpang. Kebijakan lain adalah akan dilakukan penyelarasan tarif agar kedua angkutan memiliki tarif yang sama, sehingga konsumen bebas untuk memilih.

Penerapan aturan tentang angkutan online tidak hanya dilakukan untuk driver. Sejumlah draft kesepakatan juga tengah diajukan pemerintah kepada perusahaan pemiliki jasa angkutan online. Draft tersebut berkaitan dengan aksesibilitas aplikasi. Pemerintah Kota Bogor akan meminta perusahaan untuk memperbolehkan pemerintah mengakses aplikasi mereka. hal ini merupakan rangkaian dari kebijakan peemerintah untuk membatasi jumlah angkutan online. Dengan memiliki akses terhadap aplikasi, pemerintah akan mengetahui berapa jumlah angkutan online yang sedang beroperasi dan bagaimana cara memantaunya. Selain itu, pemerintah juga bisa mengetahui harga yang ditetapkan oleh perusahaan angkutan online guna merealisasikan draft kebijakan penyetaraan tarif angkutan.

Jika menilik dari sudut pandang ekonomi, keberadaaan angkutah online di Bogor ini bisa dilihat seperti bencana sumberdaya alam. Jika Garret dan Hardyn membuat analisis terkait dengan padang gembalaan, maka sisi angkutan umum ini adalah hal yang serupa. Ketika keberadaan angkutan umum masih sedikit, permasalahan yang timbul tidak sepelik sekarang. Namun, saat masyarakat tahu return dari menjadi driver angkutan online sangat menjanjikan, maka semakin banyak masyarakat yang beralih profesi menjadi driver. Hal ini dikarenakan adanya opportunity cost yang mereka pertimbangkan. Akhirnya, rebutan segmentasi pasar terjadi dan timbul konflik.

Perkembangan teknologi adalah sesuatu yang tidak dapat dihindari. Semua ini tidak dapat ditolak. Siapa yang harus turun tangan jika terjadi hal demikian? Pemerintah adalah aktor penting. Hal ini dikarenakann kebijakan dan legalitas hukum semua ada di tangan pemerintah. Pemerintah harus mempunyai kredibilitas dan sekuritas yang agar tercipta keseimbangan dalam masyarakat. Harus ada paket kebijakan yang memayungi keduanya. Jika dilihat fenomena yang terjadi saat ini, antar sesama driver angkutan online saja mereka sudah tidak bersaing secara sehat. Hal ini diindikasikan dengan adanya aplikasi hantu, yang sangat merugikan konsumen. Mengapa mereka melakukan hal ini? Janji perusahaan, jika dalam sehari mereka mampu melakukan enam trip, maka bonus menanti. Hal inilah yang merusak moral hazard masyarakat. Mereka akan melakukan segala cara demi mendapatkan makhluk bernama rupiah. Sekali lagi perlu ditegaskan, kebijakan amat sangat dibutuhkan di kasus ini.

Kabar terbaru dari yang berwenang, peraturan tentang konversi angkot menjadi bus kota telah ditetapkan. Katanya, pada bulan Maret ini ssemua itu bisa dilaksanakan. Trans Pakuan yang selama ini hanya melayani trayek Terminal Bubulak – Ciawi, akan disiapkan untuk menjadi transportasi utama yang melayani trayek-trayek yang ada di dalam kota. Sudah ada tujuh koridor yang direncanakan akan berjalan. Saat ini, sistem transportasi ini telah berjalan dua koridor. Sistem operasinya adalah dengan menggunakan gaji, bukan upah. Selisih biaya transportasinya akan disubsidi oleh pemerintah. Kabar lainnya adalah akan didirikannya shelter untuk para driver ojek online agar mereka tidak lagi menunggu calon penumpang di fasilitas umum. Hal ini untuk menertibkan dariver dan menjaga ketertiban umum.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *